Posted on January 1, 2009 by Care Tourism
i
Rate This

Dalam Rakor (Rapat Koordinasi) Depbudpar
(Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) awal Desember 2008, dinyatakan
bahwa kegiatan kampanye Tahun Kunjungan Wisata (Visit Indonesia Year,
VIY) akan dilanjutkan pada tahun 2009. Dengan demikian kita memahami
bahwa kampanye pariwisata akan merupakan suatu kegiatan “serial”
multi-year, mungkin tidak hanya terbatas pada tahun 2008 dan 2009
belaka, melainkan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya juga, dengan
harapan persiapan dan pendanaannya akan semakin baik. Terutama bila kita
sadari bahwa kegiatan pariwisata tidak hanya terbatas pada kampanyenya
semata, melainkan juga penyediaan fasilitas (daya angkut, daya tampung
hotel dan daya dukung lingkungan); pelayanan (kualitas maupun kuantitas
SDM, profesionalsme, kecepatan, kecermatan, ketrampilan dan keramahan);
serta atraksi wisata yang “sungguh-sungguh disiapkan” untuk menerima
wisatawan, baik wisman (wisatawan mancanegara) maupun wisnus (wisatawan
nusantara).
Dalam hubungan itu, berikut ini saya kutip pernyataan Direktur
Jenderal Pemasaran, Sapta Nirwandar, yang dimuat dalam Kata Pengantar
kertas kerjanya berjudul “STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA 2009″ sbb:
Tanpa penyiapan produk yang berkualitas bisa menyebabkan
pemasar mengingkari janji tentang kualitas produk yang ditawarkan yang
pada gilirannya akan menuai ketidak percayaan dari wisman yang
berkunjung ke Indonesia.
Agaknya sudah dapat kita pastikan, kita tidak menghendaki hal itu
terjadi, bukan? Oleh karenanya, agar kita dapat mencapai target-target
tertentu, perlu kiranya kita semua bertekad, apa yang akan dan perlu
dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan, baik langsung maupun
tidak langsung? Pihak Pemerintah, eksekutif dan legislatif baik pusat
maupun daerah, pihak industri pariwisata, industri / usaha-usaha
penunjang, serta masyarakat pada umumnya.
Untuk itu, kita perlu saling mendukung, bahu membahu dan bergandeng
tangan, demi suksesnya pariwisata tanah air. Antar instansi Pemerintah
Pusat, antar instansi pemerintah daerah, baik di daerahnya maupun lintas
daerah, antara instansi pemerintah pusat dengan instansi daerah, antara
pemerintah (pusat dan daerah) dengan kalangan industri pariwisata dan
lintas sektoral, antar anggota kalangan industri pariwisata, dst, dst.
Sebelum itu, sebagai titik tolak, perlu kita lihat di mana posisi
pariwisata kita setelah VIY-2008 berakhir? Untuk itu beberapa pertanyaan
di bawah ini perlu dijawab agar dapat memperoleh “Peta kekuatan”
pariwisata Indonesia.

Seni Budaya Belitung
1. Di antara 33 provinsi, manakah yang benar-benar “siap” dengan produknya yang akan ditawarkan?
2. Di antara provinsi yang siap dengan produknya, apa yang banyak diminta pasar (pesiar/bisnis, budaya/alam)?
3. Di antara produk yang banyak diminta pasar, apa yang menonjol untuk dijadikan “unggulan” sebagai icon?
4. Di antara produk-produk yang ditawarkan, produk apa yang banyak diminta dan dari pasar yang mana?
5. Di antara profinsi yang “belum siap”, apa yang merupakan
kekurangannya sehingga dapat dirujuk untuk perbaikan / penyempurnaan.
6. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, manakah yang benar-benar siap menerima wisatawan dalam skala besar?
7. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, bagaimana mengemasnya dalam
paket-paket wisata nasional agar saling melengkapi
(complement-to-each-other), bukan bersaing satu dengan lainnya,
melainkan untuk bersama-sama dipasarkan.
Daftar pertanyaan di atas bisa ditambah lebih panjang.
Pada umumnya Pemerintah Provinsi menginginkan daerahnya masing-
masing
menjadi Daerah Tujuan Wisata/DTW (Tourist Destination Area). Pada
kenyataannya tidak semua provinsi berada dalam keadaan siap untuk
menjadi DTW, mengingat belum terpenuhinya beberapa persyaratan /
kriteria sebagai DTW, terutama jika diharapkan sebagai DTW
internasional.
Perlu agaknya kita akui bahwasanya di antara 33 provinsi yang kita
miliki hanya 3 DTW yang siap dipasarkan dalam skala besar, yaitu Bali,
Jakarta dan Batam, yang mampu menampung wisman lebih dari 3.000.000
tourist-nights setahun. Benar kiranya, bahwa provinsi lain pun dalam
kondisi siap dipasarkan, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Utara, namun perlu diingat bahwa provinsi-provinsi ini
kapasitas daya tampung wismannya masih berada di sekitar 500.000
tourist-nights setahun, baik ditinjau dari segi aksesibilitas maupun
daya tampung akomodasinya.
Secara umum potensi pariwisata Indonesia berada pada
“keanekaragaman”, baik dalam hal lingkungan alamnya – dari puncak gunung
hingga alam bawah laut -; maupun kebudayaannya – dari bahasa sampai
adat istiadat -.
Mengingat banyaknya keragaman yang dapat ditawarkan, mengapa
pariwisata Indonesia tidak terfokus pada “great selling point” yang
dimiliki, yaitu “keanekaragaman budaya dengan latar belakang keragaman
dan keindahan alam”, dengan jalan memberikan kemudahan yang memadai
sebagai DTW yang “dicari dan didambakan” oleh wisatawan, baik wisman
maupun wisnus, dengan memenuhi ketentuan-ketentuan keselamatan (safety),
keamanan (security), kenyamanan (comfort) yang berlaku global dan
diperlukan sebagai persyaratan melekat dalam suatu perjalanan wisata
pada umumnya.
Contoh pertama, kemudahan Visa On Arrival (VOA), – yang berlaku 30
hari -, dirasakan kurang mamadai bagi seorang wisatawan yang ingin
“menjelajahi dan menikmati” Indonesia yang luas dan dilengkapi
“ke-bhineka-annya”, terutama bagi mereka yang ingin melakukan
perjalanannya “berbaur” dengan masyarakat lokal, dengan bus, kerata api,
angkot bahkan ojek. Dengan cara itu mereka merasakan “kebhinekaan”
secara seketika (instant) dan nyata.
Contoh kedua, sistim transportasi di tanah air masih dirasakan belum
menjamin kenyamanan, keselamatan, dan keamanan para wisatawan. Jangankan
bagi wisman, wisnus pun masih merasakan kekurangan ini.
Nah, dalam rakornya, – pemerintah (Depbudpar) -, menyatakan akan
meningkatkan Pariwisata nusantara yang diakuinya bahwa hingga saat ini
tumbuh “secara alami”, dalam arti belum ada upaya terencana dan terarah
untuk kepentingan itu. Bagaimana rencana kerja Depbudpar selanjutnya ke
depan akan kami uraikan dalam kesempatan lain.
Salam,
0 komentar:
Posting Komentar